Parchment vs Papirus

evolusi material tulis dari tanaman hingga kulit hewan

Parchment vs Papirus
I

Pernahkah kita menyadari betapa rapuhnya ingatan manusia? Coba bayangkan data di ponsel yang tiba-tiba corrupt, atau buku catatan sekolah dulu yang sekarang kertasnya sudah menguning dan gampang robek. Dulu, leluhur kita juga punya kecemasan eksistensial yang sama. Mereka ingin meninggalkan jejak. Mereka ingin pemikiran mereka abadi, tidak ikut mati bersama jasad mereka. Dari dorongan psikologis inilah lahir teknologi paling revolusioner dalam sejarah peradaban: medium tulis. Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur ribuan tahun ke belakang. Kita akan melihat pertarungan epik antara rumput rawa dan kulit hewan. Sebuah rivalitas antara papyrus dan parchment (perkamen). Pertanyaannya, kenapa peradaban kita rela meninggalkan tanaman yang mudah ditanam, demi lembaran kulit hewan yang mahal dan prosesnya berdarah-darah? Jawabannya ternyata mengubah cara otak manusia memproses informasi hingga detik ini.

II

Mari kita mulai dari lembah Sungai Nil. Di sana tumbuh Cyperus papyrus, sejenis alang-alang air yang sangat melimpah. Bangsa Mesir Kuno sangat jenius dalam ilmu botani terapan. Mereka membelah empulur batang tanaman ini, menyusunnya menyilang, membasahinya, lalu memukul-mukulnya sampai pipih. Getah alami tanaman itu bertindak sebagai lem yang kuat. Hasilnya adalah gulungan papyrus yang ringan dan fleksibel. Secara sosiologis, penemuan ini mengubah jalannya umat manusia. Untuk pertama kalinya, birokrasi negara, puisi, dan hukum bisa dikirim jarak jauh dengan mudah. Namun, papyrus punya kelemahan biologis yang fatal. Ia pada dasarnya hanyalah selulosa nabati. Di iklim Mesir yang kering kerontang, ia bisa bertahan ribuan tahun. Tapi coba bawa gulungan itu ke Eropa yang dingin dan lembap. Selulosa itu akan menyerap air dan membusuk dimakan jamur hanya dalam hitungan dekade. Sejarah jelas membutuhkan medium yang lebih tangguh dari sekadar rumput.

III

Krisis medium tulis ini akhirnya meledak karena sebuah drama politik dan ego manusia. Di dunia kuno, ada dua perpustakaan raksasa yang saling bersaing: Alexandria di Mesir dan Pergamum di Yunani (sekarang wilayah Turki). Raja Mesir saat itu dilanda cemburu buta. Ia tidak rela perpustakaan Pergamum mengalahkan koleksi Alexandria. Jadi, apa yang dia lakukan? Ia menjatuhkan embargo. Mesir menghentikan total ekspor papyrus ke Pergamum. Coba posisikan diri kita sebagai ilmuwan di Pergamum saat itu. Kita punya ribuan ide untuk dicatat, tapi suplai kertas diputus oleh negara tetangga. Kepanikan ini justru memicu mekanisme pertahanan psikologis yang luar biasa: ketika ditekan oleh keterbatasan, otak manusia seringkali menghasilkan inovasi yang radikal. Karena tidak ada tanaman, mereka mulai melihat ke peternakan domba dan sapi di sekitar mereka.

IV

Inilah momen lahirnya parchment, atau perkamen. Penting untuk dicatat secara sains, perkamen itu berbeda dengan kulit hewan yang disamak menjadi jaket atau sepatu kulit (leather). Pembuatan perkamen adalah ilmu kimia murni yang brutal tapi brilian. Kulit hewan direndam dalam larutan kapur basa (calcium hydroxide) selama berminggu-minggu. Tujuannya untuk merontokkan rambut dan lemak, sekaligus melonggarkan ikatan antar sel. Setelah itu, kulit ditarik sekencang mungkin di atas bingkai kayu dan dikikis perlahan hingga kering. Secara mikroskopis, tegangan luar biasa ini memaksa serat-serat jaringan kolagen pada kulit menjadi sejajar sempurna. Hasilnya? Lembaran putih yang halus, sangat kuat, dan tahan kelembapan. Perkamen mengubah segalanya. Karena sangat tebal, kita bisa menulis di kedua sisinya. Kalau salah tulis, kita tinggal mengeroknya dengan pisau dan menulis ulang (praktik daur ulang ini disebut palimpsest). Yang paling revolusioner, karena perkamen ini kuat saat dilipat-lipat, umat manusia akhirnya meninggalkan format gulungan (scroll) dan beralih ke format buku berjilid yang kita kenal sekarang (codex). Kemampuan kita membolak-balik halaman secara acak ini memicu lompatan kognitif dalam cara kita membaca dan belajar.

V

Ketika kita memikirkan sejarah, kita sering luput menyadari harga dari sebuah pengetahuan. Untuk membuat satu buku Alkitab yang besar di Abad Pertengahan, dibutuhkan kulit dari ratusan ekor domba. Sebuah dedikasi—atau pengorbanan nyawa—yang luar biasa massal hanya agar sebuah gagasan bisa melintasi zaman. Evolusi dari tanaman papyrus yang murah ke kulit hewan parchment yang premium bukanlah sekadar inovasi alat tulis. Ini adalah bukti seberapa jauh kita, sebagai spesies, mau berusaha mati-matian agar keberadaan kita tidak dilupakan oleh waktu. Saat ini, kita mengetik di atas layar kaca dan menyimpan memori di cloud digital yang tak terlihat. Sangat praktis, memang. Tapi kadang saya merenung, apakah tweet, foto, atau dokumen digital kita hari ini sanggup bertahan ribuan tahun seperti lembaran kulit domba dari Pergamum? Sejarah mengingatkan kita satu hal: wujud material tempat kita bercerita, seringkali sama bermaknanya dengan cerita itu sendiri.